Tuesday, February 5, 2013

Manfaat dan Khasiat Daun Beluntas Bagi Kesehatan

Manfaat dan Khasiat Daun Beluntas
Manfaat dan Khasiat Daun Beluntas
Mencari informasi manfaat dan khasiat dari daun beluntas. Beluntas yang bernama latin Pluchea indica L., nama tanaman ini sangat jarang didengar. Akan tetapi, sebenarnya bentuk tanaman ini tidak seasing namanya. Apabila kita perhatikan secara teliti, hampir bisa dipastikan bahwa orang akan langsung mengenal sebagai tanaman yang sering terdapat di pekarangan rumah, dikarenakan biasa dipakai sebagai tanaman pagar. Beluntas adalah tanaman perdu tegak, dan berkayu, serta bercabang banyak, memiliki tinggi bisa mencapai 2 meter. Berdaun tunggal, berbentuk bulat telur, berujung runcing, serta berbulu halus, daun mudanya berwarna hijau kekuningan dan pada saat tua berwarna hijau pucat dan panjang daunnya 3,8-6,4 cm. Tumbuhan ini liar di tanah dengan kelembaban tinggi; di daerah Jawa Barat tanaman ini dipakai untuk tanaman pagar dan pembatas antar guludan di perkebunan. Di beberapa daerah Indonesia menyebutkan nama beluntas dengan nama yang berbeda seperti baluntas (Madura), Luntas (Jawa Tengah), dan Lamutasa (Makasar).
Secara tradisional sejak dahulu daun beluntas dipakai sebagai obat untuk menghilangkan bau badan, sebagai obat penurun panas, mengobati batuk, dan juga diare. Daun beluntas yang sudah direbus akan manjur dalam mengobati sakit kulit. Selain itu daun beluntas biasanya dikonsumsi masyarakat sebagai bagian dari lalapan.

Adanya informasi dari masyarakat bahwa secara tradisional sudah lama dikenal manfaat dan khasiat daun beluntas sebagai salah satu tanaman obat mendorong banyak peneliti mengadakan berbagai percobaan dan riset untuk membuktikan khasiat daun beluntas secara ilmiah. Di artikel ini akan dijelaskan dua penelitian yang memanfatan daun beluntas dalam bentuk ekstrak sebagai komponen antibakteri ( oleh Ardiansyah, tahun 2002) dan minyak atsiri berkhasiat untuk zat antioksidan ( oleh Paini Sri Widyawati, tahun 2005).

Dalam proses menghasilkan ekstrak daun beluntas terlebih dahulu daun dikeringkan. Proses ekstraksi dilakukan menggunakan pelarut heksan. Kemudian residu yang diperoleh diekstrak kembali menggunakan pelarut etanol sehingga diperoleh ekstrak polar defatted melalui metode refluk. Pada pengujian aktivitas antibakteri ekstrak dilakukan pada bakteri-bakteri dari kelompok patogen penyebab keracunan makanan seperti Escherichia coli, Salmonella typhi, Staphylococcus aureus, dan Bacillus cereus. Disamping itu E. coli merupakan bakteri penyebab infeksi pada saluran pencernaan, sedangkan S. aureus merupakan bakteri yang menyebabkan impetigo (pembengkakan pada lapisan epidermis kulit), furuncle (radang di jaringan sub kutan), dan carbuncle [peradangan yang meluas sampai mengenai folikel rambut]. Dari kelompok bakteri penyebab pembusukan makanan yaitu Pseudomonas fluorescens. Pengujian aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi sumur; adanya zona bening disekitar sumur menunjukkan aktivitas antibakteri. Davis Stout mengemukakan bahwa ketentuan kekuatan antibakteri adalah sebagai berikut: daerah hambatan 20 mm atau lebih berarti sangat kuat, daerah hambatan 10 – 20 mm (kuat), 5 -10 mm (sedang), dan daerah hambatan 5 mm atau kurang (lemah).

Aktivitas antimikroba ekstrak daun beluntas
Bakteri ( Ekstrak Nondefatted ) ( Ekstrak Defatted )
Escherichia coli ( 8,5 +/- 0.5 ) ( 7,0 +/- 0.4 )
Salmonella typhi ( 10,2 +/- 0.4 ) ( 8,2 +/- 0.5 )
Staphylococcus aureus ( 9,1 +/- 1.0 ) ( 7,1 +/- 0.6 )
Bacillus cereus ( 8,4 +/- 0.7 ) ( 6,5 +/- 0.3 )
Pseudomonas fluorescen ( 6,3 +/- 0.3 ) ( 5.5+/- 0.3 )

Tampak bahwa ekstrak nondefatted memperlihatkan aktivitas penghambatan lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrak defatted. Apabila data pada tabel dikaitkan dengan ketentuan kekuatan antibakteri yang dikemukakan oleh Stout, maka kekuatan antibakteri yang terkandung dalam ekstrak daun beluntas termasuk kedalam kategori “sedang” yaitu masuk dalam kisaran 5-10 mm. Walaupun kekuatan antibakteri dalam kategori sedang, bisa dipahami apabila daun beluntas berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit yang diakibatkan oleh infeksi bakteri.

Manfaat dan Khasiat Daun Beluntas sebagai zat antioksidan
Penelitian yang diadakan oleh Paini Sri Widyawati (tahun 2005) adalah mencoba meneliti aktivitas antioksidan dari daun beluntas. Proses ekstrak Daun beluntas menggunakan etanol dengan metode soxhlet dan air pada metode hidrodistilasi. Selanjutnya masing-masing ekstrak, baik dari metode soxhlet ataupun hidrodistilasi diuji kemampuan radical scavenging activityDPPH (2,2-diphenil-1- picrylhydrazil radical), yaitu antioksidan dalam ekstrak dan minyak atsiri daun beluntas akan bereaksi DPPH dan mengubahnya menjadi alfa,alfa-diphenyl-beta-picrylhydrazine. Saat perubahan serapan yang dihasilkan oleh reaksi ini menjadi ukuran kemampuan antioksidan dari daun beluntas. Sebagai pembanding dipakai TBHQ (tertier butil hidroquinon) dan ?-karoten yang secara umum sudah dipakai sebagai aktioksidan komersial.

Hasil yang diperoleh memperlihatkan kemampuannya secara berturutan sebagai berikut beta-karoten --> minyak atsiri beluntas --> ekstrak beluntas --> TBHQ. Data ini memperlihatkan bahwa daun beluntas memiliki potensi sebagai antioksidan alami dan bisa menggantikan kedudukan TBHQ dan beta-karoten sebagai antioksidan.

Manfaat dan khasiat Daun Beluntas sebagai pengawet makanan dan obat
Penggunanan senyawa antimikroba/antibakteri yang berfungsi sebagai bahan pengawet, juga antioksidan yang berfungsi untuk mencegah terjadinya reaksi oksidasi sehingga mencegah produk makanan dari kerusakan karena terpapar langsung oleh udara dan cahaya, selama ini sebagian besar berasal dari bahan-bahan kimia sintetik. Berdasarkan penelitian bahan-bahan tersebut bisa menyebabkan dampak negatif terhadap kesehatan. Sebagai alternatif pemecahannya bisa dipakai bahan-bahan alami yang mempunyai kelebihan karena lebih aman untuk dikonsumsi.

Data-data ilmiah diatas memperlihatkan bahwa daun beluntas memang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai ekstrak yang akan berfungsi sebagai pengawet makanan, dikarenakan khasiatnya dalam menghambat pertumbuhan bakteri-bakteri penyebab keracunan makanan dan bakteri penyebab kerusakan makanan. Disamping itu juga kemampuannya sebagai radical scavenging activity bisa dimanfaatkan sebagai senyawa antioksidan.

Selain itu khasiat daun beluntas bisa dipakai sebagai obat radang (inflamasi) dan obat diare dikarenakan kemampuannya dalam menghambat pertanaman bakteri S. aureus dan E. coli.

Tata Cara Penggunaan :
1. Gangguan pencemaan pada anak-anak: daun beluntas ditambhakan pada bubur saring atau nasi tim.
2. TBC kelenjar leher:
extra batang dan daun beluntas, extra gelatin dari kulit sapi, Laminaria japonica (rumput laut). Bahan-bahan ini ditim sampai lunak, Ialu dimakan.
3. Nyeri rheumatik: 15 gr akar beluntas direbus kemudian diminum.
4. Menghilangkan bau badan: gunakan daun beluntas sebagai lalapan
5. Peluruh keringat, menurunkan panas: Daun beluntas direbus atau diseduh untuk diminum seperti teh

Tanaman beluntas memiliki bau yang khas atau Sengir dan rasanya agak getir.
Daun beluntas berkhasiat untuk menambah nafsu makan "Stomakik", serta membantu pencernaan.
Kandungan zat yang sangat berguna dari daun beluntas adalah: Alkaloid dan minyak atsiri.

No comments:

Post a Comment